Pasukan 19, Sang Pewaris Mojang Sunda

Dan inilah masa depan kami yang lainnya, semua berharap agar mereka mampu mengikuti jejak kakak-kakaknya yang selalu gigih untuk mengharumkan rumah mereka, PASKIBRA Satuan SMPN 1 Cileunyi Kab. Bandung

Pasukan yang selalu tampil baru.

Mojang Sunda dan Satria Pegasus adalah sebuah karya yang nyata

Pasukan 17

Mereka adalah yang disebut sebagai pelaku sejarah, mereka lahir dengan nampak sempurna dan sampai pada penampilan terakhir mereka, mereka begitu menyita banyak pandangan mata.

Pasukan 18, Sang pewaris Satria Pegasus

Pasukan ini terlahir pada saat semuanya menjadi yang terbaik dan mulai pulih, adalah tantangan yang selalu mereka hadapi di arena perlombaan.

Saat Upacara Penaikan Bendera

Bagian terbesar dalam kiprah kami adalah selalu membuat Sang Merah Putih tetap melambai dengan eloknya di atas tiang tertinggi.

Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

Angka 17

Perlahan kabut tipis putih berbaur dengan alam . Kulihat, telah menyinsing sinar mentari dipelupuk wilayah tertimur negeriku, aku merasakan bagaimana nikmat dan indahnya rasa hangat ditubuhku, yang membuatnya nyaman dan enggan untuk mengangkat telapak kaki di tempat yang saat ini aku sedang berdiri, di rumahku. Mentari, membuat pagiku terasa lebih hangat yang dibumbui oleh gelora untuk menjajaki alur takdir telah yang telah Dia lukis yang harus aku lalui sebagai insan pengharap dan pembaris. Mentari membuat emosi jiwaku enggan untuk hidup tenang ketika rasa panas yang menyengat tepat berada diatas tempat  yang penuh dengan pemikiran karya, yang ku pikirkan ketika itu adalah hasyrat segera bertepi ke tempat rindang dedaunan yang menyejukkan dan saat itu aku berontak menahan segala apapun yang membuatku merasakan sengatan hari, dan aku benar-benar ingin beranjak. Tetapi petang, ketika aku diberikan sentuhan lembut oleh mentari yang mulai mengerti atas apa yang aku pikirkan ketika dia memancarkan tingkat kehebatannya, aku dibelai mesra oleh mentari senja, disana aku temui aku yang nampak lebih tenang dengan raga yang terlihat payah  nan lunglai, dengan sisa kekuatan yang ada menghabiskan terang bersama mentari yang perlahan redup ditelah pekat. Aku sangat menanti masa ini disetiap harinya, aku menyukai malam, aku menyukai malam dengan keheningannya dan disanalah aku bercerita. Begitulah seterusnya cerita hari yang aku lalui bersama mentari, aku tahu ada masanya ketika dia datang dengan membawa kenyamanan, dia datang dengan kebengisannya, dan dia datang kelembutannya. Tapi satu hal, mentari tidaklah akan pernah pergi untuk selamanya, dia hanya sedang berada dibelahan bumi yang lain, dan ada masanya dia akan kembali kepada pangkuan dimana meraka ada dan terbit.
Begitulah aku memaknai apapun yang kita rajut dan jalin selama ini di rumah yang telah membesarkan kita, kalian adalah mentari yang bisa saja membuat orang-orang bahagia dan bisa saja membuat orang-orang menderita karena kedatangannya, namun pada hakikatnya, mentari memiliki guna yang guna tersebut tidak harus dibandingkan dengan guna benda lain. Betul jika ada beberapa orang yang berang karena kedatangnya, namun lihat, ada lebih banyak orang yang sangat menantikan kehadirannya, mentari.

Aku menyimpan mentari.
Jika bukan karena ada manusia yang berbaris itu, mungkin sekarang aku telah menjadi “gelandangan pembaris” yang mengemis kepada para manusia angkuh. Pernah aku temui masa ketika aku benar-benar berada pada posisi terburuk selama berkarir di dunia yang penuh dengan onak berduri ini, ah.. mungkin ini tidak sebarapa, ketika aku tidak bisa lagi merasakan indahnya memandang pelangi, ketika aku tidak lagi bisa merasakan manisnya madu, ketika aku tidak lagi bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan, aku tertipu dengan keindahan pelangi, ternyata indahnya pelangi membuat pandanganku menjadi buta, ternyata manisnya madu  membuat lidahku terasa sangat pahit, dan ternyata nikmatnya kebahagiaan membuat batinku merintih, aku tertipu dengan segala yang nampak pada pandangan mata. Pengadu, aku menyebut diriku sebagai manusia pengadu kepada para bocah, ketika aku mengadu atas apapun yang menipu pada kehidupanku. Aku melihat dengan kesadaranku, mereka benar-benar mengulurkan jari-jemari mereka, merangkulku ? itu yang sangat aku harapkan. Rasanya tidak percaya ketika jemari mereka adalah untuk aku sentuh dan untuk ku genggam, ini seperti asing dalam kehidupanku, tercengang atau tidak, percaya atau tidak, ini benar-benar terjadi. Seketika itu aku mendapati diri yang lebih baik dan aku mendapati diri yang kembali bisa mendang indahnya pelangi yang nampak diwaktu petang, aku bisa merasakan manisnya madu yang menyehatkan dan aku bisa lagi merasakan nikmatnya kebahagiaan yang selama ini tertimbum dengan baik. Aku dengan diriku larut pada kebahagiaan yang berkepanjangan, ketika aku merasakan yang rasa itu membuat aku kembali hidup, kembali hidup bersama asa yang enggan pergi (lagi) pada kehidupanku. Aku dengan asaku adalah hal yang akan membuat rumah yang membesarkan aku kan dipandang dengan mata yang terbuka, akan didengar dengan telinga yang menganga, dan akan dirasa dengan perasaan yang peka, akan ada masa ketika aku dan asaku melebur dengan mereka dan asa mereka, sehingga, yang akan membuat besar dan harum rumah adalah kita,  bukan aku, bukan juga dia, tetapi kita. Mereka terlalu istimewa ketika mereka hadir dan mampu ku sentuh di kehidupanku. Mereka mampu membuat pikirku sesak oleh kebencian, namun, mereka sangat mampu mengembalikan dan mengisi hariku dengan helaan nafas opmitis akan asa dan mengisi hariku didampingi oleh kebahagiaan yang mereka berikan. Aku menyebut mereka dengan “Sahabat terbaikku”, tapi aku tak tahu, apa sebutan untukku. Sahabat, semoga ini tidak cepat berakhir.

Aku sangat benci menulis bagian ini, tentang perpisahan.
Aku enggan menerima kenyataan yang sudah menjadi alur kehidupan ini. Mereka benar-benar harus beranjak pergi, merangkai kembali asa bersama dunia baru mereka, dan menata kembali sikap serta pikir dengan manusia asing. Kenangan memang untuk dikenang, dan pertemuan memang untuk perpisahan. Akan ku kenang atas setiap detik yang pernah kita lalui bersama, kita pernah lalui masa sulit dengan mata sayu dan tertunduk lesu, kita pernah lalui masa lelah dengan kaki yang tak mampu lagi menopang tubuh, dan kita pernah lalui masa sakit dengan hati yang teriak merintih namun tak ada siapapun yang mendengar. Namun ketahuilah, Tuhan memang sangat Adil. Hal yang membuat kita sayu dan lesu, yang membuat kita lela dan sakit, kini telah menjelma menjadi sesuatu yang sangat indah, indah dan terlalu indah untuk kita kenang, ketika ruang tempat kita berdiri dihiasi oleh siratan manisnya senyum, dibingkai oleh syahdunya tangis haru dan kita saling pandang dengan pandngan yang tajam yang larut dengan kebahagiaan.

Pertemuan

"Setiap pertemuan sudah barang tentu akan diakhiri dengan perpisahan". Tapi aku berontak pada malam, "Setiap pertemuan sudah barang tentu akan diakhiri dengan pertemuan kembali" . Itulah baris kata yang sengaja aku buat untuk menghibur diri tentang kepastian akan perpisahan. Bodohnya aku, aku melanggar hukum alam tentang perpisahan. Aku hanya ingin selalu mengikat dengan erat atas apapun jalinan yang sempat dan telah kita jalin ini, aku sama sekali tidak menginginkan sebuah akhir, itu terlalu menyakitkan jika harus benar-benar terjadi. Ya, pada akhirnya pertemuan memang untuk perpisahan. Maka siapapun, ajari aku agar aku bisa rela melepasnya dengan mudah. Semoga tidak ada yang mampu untuk mengajari itu.

Jumat, 16 November 2012

Selanjutnya, adalah mereka ! (+Pict)


Semua pernah mendengar dan mengetahui tentang sebuah pepatah yang mengatakan “Mati satu tumbuh seribu”, sebuah pepatah yang menggambarkan tentang sebuah upaya pengkaderan dari seseorang  yang dengannya akan menghilangkan sesuatu yang disebut dengan “Vacum Of Power” sebuah kejadian dimana tidak ada lagi kekuatan yang dimiliki, yang dengan kejadian itu akan memudahkan musuh untuk memporak-porandakan wilayah yang didiami oleh siapapun yang mengalami “Vacum Of Power”. Dalam hal ini kami mencoba merespon pepatah tersebut dengan sebuah kerja nyata, dengan bentuk pengkaderan kepada anak didik kami agar mereka mampu menjadi generasi penerus dan pewaris kejayaan yang pernah diraih oleh kakak-kakak mereka. Memang, hasil yang akan diperoleh tidak akan sama dengan generasi sebelumnya, pilihannya adalah tiga, apakah mereka akan lebih buruk dari yang sebelumnya ? apakah akan sama ? atau apakah mereka akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya ?, ketiganya adalah sebuah pilihan, dan kami telah memilih pilihan itu !. Dalam membentuk generasi yang baik, perlu kiranya menghadirkan sebuah kerja sama dari semua pihak baik itu pihak internal keluarga besar PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi atau pihak yang lainnya seperti dukungan dari pihak sekolah dan luar sekolah. Sekali lagi, telah menjadi sebuah keyakinan bagi kami bahwa “Apapun, jika ada kemauan pasti akan diberikan sebuah jalan terang”.
Dan, inilah generasi selanjutnya yang semoga dengannya mampu meneruskan perjuangan dan kejayaan yang pernah dilakukan serta diraih oleh generasi sebelumnya:













































Sabtu, 10 November 2012

Semuanya.. Saat Terakhir


(Sebuah akhir cerita tentang perjalanan manis pahit seorang pelaku sejarah)
“Setiap pertemuan yang manis, terkadang diakhiri dengan perpisahan yang terasa menyakitkan (Pelatih Amatir,2012).”
Tentang mereka, sudah banyak sekali lirik yang tertulis dengan sentuhan rasa, rasanya tidak bosan untuk menceritakan kembali sepak terjang mereka para pelaku sejarah yang telah membuat  perjalanan cerita ini semakin menarik, yang menghantarkan kami pada manisnya berdiri dipanggung kejayaan dengan riuhan yang mengeluh-eluhkan dengan alunan suara yang lahir dari tepuk tangan yang tulus. Setiap harapan yang dicanangkan selalu menjadi hal yang nyata tersentuh dan terasa oleh segala rasa, setiap proses yang dilalui selalu menjadi cerita tersendiri tentang batapa beratnya untuk menjadi sesuatu yang disebut dengan berjaya. Langkah ini terkadang sangat terasa berat, kami selalu dihadapkan dengan hal yang sudah menjadi sahabat setia kami, yaitu masalah, namun sepertinya setiap permasalah yang datang tidak pernah nyaman untuk terus berada dilingkungan tempat kami hidup. Kami memandang wajar terhadap permasalahan yang didapat, lagi pula hidup itu penuh dengan permasalahannya bukan ? dan sudah menjadi sebuah keyakinan bagi kami bahwa Badai pasti pulang, maka setiap permasalahan yang ada selalu kami akhiri dengan segala bentuk upaya dan dengan kekuatan yang tersisa saat semua pergi begitu saja meninggalkan bibit masalah, yang jika dia dibiarkan akan menjelma menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Semua Kesan Pertama dan Pendidikan
Masa lalu dengan beribu pengalaman hidup memang telah menjadi sebuah guru yang hebat, masa lalu menyimpan ribuan bahkan jutaan kenangan tentang manis pahit kehidupan dan masa lalu menyimpan sebuah teka-teki hidup, serta Masa lalu telah mampu membawa kami pada jendela dan tatanan kehidupan yang lain. Menurut ku jika mampu mengelola masa lalu dengan baik seseorang akan dihantarkan pada pribadi yang sebaik-baiknya pribadi. Tentang masa lalu, teringat sebuah cerita tentang perjalanan mereka ketika ku temui di Kaki Gunung Manglayang, yang saat itu kulihat adalah sebuah pemandangan yang tak begitu indah dari raut wajah mereka, mungkin karena lelah, mungkin karena tidak terdapat niat yang tulus atau mungkin karena tekanan yang dilancarkan oleh kakak-kakak mereka. Namun disisi lain, tersirat pada pandangan itu adalah akan lahir seorang generasi yang kan membawa semuanya membaik. Disana memang bukan pertemuan pertama, namun diantara pertemuan yang ku alami, disanalah pertemuan yang ku pilih untuk dijadikan sebuah cerita awal tentang semuanya. Dengan dijalaninya segala aktivitas di Kaki Gunung Manglayang, maka mereka telah menjadi bagian dari keluarga besar PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi walaupun belum secara syah. Sebagai syarat untuk menjadi keluarga besar PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi mereka harus melakukan perjalanan selanjutnya, yaitu mengikuti kegiatan DIKLAT setelah sebelumnya mereka mengikuti kegiatan DIKLATSAR sebuah pendidikan pertama bagi mereka jika ingin menjadi bagian atau keluarga besar PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi. DIKLAT adalah pintu selanjutnya agar mereka diakui untuk menjadi penghuni rumah baru mereka. Ya, mereka menjalaninya dengan baik, dengan semangat dan jiwa yang penuh gelora. Hemm.. sepertinya perlu waktu yang banyak untuk menuliskan tentang semua perjalanan yang mereka alami, namun akan ku gambarkan secara singkat (tanpa penjelasan menyeluruh) tentang jejak juang mereka. Seperti telah dibahas sebelumnya, karir mereka diawali di Kaki Gunung Manglayang untuk menjadi seorang CAPAS (Calon Anggota PASKIBRA) pintu gerbangnya adalah mereka harus mengikuti kegiatan DIKLATSAR (Pendidikan dan Latihan Dasar), untuk menjadi seorang Anggota PASKIBRA mereka harus mengikuti kegiatan DIKLAT (Pendidikan dan Latihan), dengan mengikuti kegiatan itu mereka telah menjadi Anggota PASKIBRA dan sebagai bentuk pengesahan sebagai Anggota mereka dilantik pada malam 17 Agustus atau pada malam lainnya yang berdekatan dengan malam itu sebagai bentuk peresmian mereka untuk menjadi anggota PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi. Selain sebagai bentuk peresmian, malam itu juga kami maksudkan sebagai bentuk kegiatan agar ketika pelaksanaan Pengibaran 17 Agustus mereka mampu melaksanakannya dengan baik dan khidmat, dengan jiwa Patriotisme yang tinggi.

Semua Jiwa yang Baru
Telah hadir jiwa-jiwa yang baru, tidak lama setelah mereka dilantik sebagai anggota, mereka disematkan sebagai pengurus baru PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi setelah sebelumnya angkatan 16 melakukan Laporan Pertanggung Jawaban dan Serah Terima Jabatan dihadapan pihak sekolah, para alumni, dan tentunya adik-adik mereka termasuk didalamnya adalah angkatan 17.
Selalu, setiap apapun yang mereka alami selalu menjadi sebuah cerita menarik untuk dijadikan sebuah lirik kata. Ketika menjadi seorang pengurus, banyak sekali cerita didalamnya, mulai dari masalah diantara sesama mereka yang kadang terjadi perang dingin, sampai pada kebahagiaan yang dialami mereka ketika mereka menjabat sebagai pengurus baru. Tepat satu tahun menjabat, pada bulan September 2012 mereka harus segera menyerahkan segala bentuk tanggung jawab sebagai pengurus kepada adik kelas mereka angkatan 18, maka dengan keharusan seperti itu mereka melakukan Laporan Pertanggung Jawaban dan Serah Terima Jabatan persis yang dilakukan oleh kakak mereka, angkatan 16. Dengan dilaksanakannya LPJ dan SERTIJAB mereka telah resmi menjadi seorang Purna bhakti. Itulah perjalanan mereka yang menceritakan tentang karir di PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi dari mulai mereka sebagai Bakal Calon Anggota PASKIBRA sampai pada status Purna Bhakti, status tertinggi di PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi disamping Dewan Alumni dan Dewan Pelatih serta Dewan Pembina.

Semua Tentang Perjuangan
Sekarang akan ku buka kembali lembaran ingatan tentang perjalanan mereka dalam rangka mengharumkan dan membuat besar rumah yang salama ini mereka huni, PASKIBRA dan Almamater SMPN 1 Cileunyi, yaitu perjalanan mereka di arena perlombaan. Jika ku harus mengingat, aku hanya ingat tentang cerita di SMPN 3 Rancaekek, saat itu adalah saat pertama ku bertemu dan melihat mereka di arena perlombaan, masih lugu dan rasanya tidak mungkin untuk menjadi sehebat sekarang. Tidak banyak yang didapat, hanya lelah dan siraman air hujan yang nyaris membuat tubuh ini tidak ada yang mengering karenanya, serta pengalaman yang tidak begitu mencolok daripada pengalaman lainnya. Perlombaan demi perlombaan mereka ikuti sampai pada akhirnya mereka menjadi jelmaan yang menampakan perubahan yang signifikan, apakah dengan perubahan  yang ada mereka memperoleh keberhasilan ? TIDAK dan itu BELUM CUKUP !, awal terlihat perubahan adalah ketika mereka memberanikan diri untuk tampil pada perlombaan akbar di SMAT KRIDA NUSANTARA tahun 2011, semula memang mengharapkan ada sesuatu yang dibawa yang berbentuk materi, namun Tuhan menyimpannya dan harapan itu tidak mampu mereka bawa pulang. Ah, aku dan mereka nampaknya tidak terlalu lama dan tidak harus larut atas hasil yang didapat, disatu sisi kulihat tangisan haru dari para pioner yang mampu (hampir) melakukan aksi sapu bersih pada perlombaan tersebut, kami menjadi juara Umum untuk yang pertama kalinya setelah beberapa tahun tak kunjung datang  pada sebuah event yang luar biasa besar, adalah angkatan 16 yang menjadi tonggak kebangkitan kami. Terimkasih untuk sang pengembara.

Semua Kejayaan adalah Pemberian Tuhan          
Hari tetaplah hari dan waktu tetaplah waktu, keduanya tidak pernah diam menunggu kebangkitan dari siapapun yang kan bangkit. Ajang sebelumnya telah menjadi pelajaran penting tentang arti sebuah kerja keras. Sempat vakum selama beberapa bulan, pada bulan Oktober/November kami mencoba semua hal yang dirasa baru, mulai pada gerakan PBB sampai pada kostum lomba. Semuanya kami tumpahkan pada penghelatan yang tidak kalah besarnya, yaitu LKBB Cexo’s SMAN 1 Cicalengka Kabupaten Bandung se-Jawa Barat. Dan, segalanya yang sempat Tuhan simpan, Tuhan berikan dan tumpahkan untuk kami. Harapan yang kami canangkan semula akhirnya dapat terwujud, disana adalah moment selanjutnya kebangkitan kami, kami menjadi yang terbaik dengan sentuhan para pelatih amatir. Adapun ocehan orang lain, kami anggap sebagai cermin yang kan merubah segala bentuk perjuangan dimasa yang akan datang. Beberapa minggu setelahnya, kami menjajal dan mencoba peruntungan di SMKN 1 Katapang, Alhamdulillah disana kami mendapatkan sesuatu yang kami harapkan pula, namun ada beberapa catatan selama keikutsertaan disana, sepertinya ada sesuatu yang tak harus nampak terlihat dan terdengar oleh telinga kami. Apapun dan bagaimanapun, tetap kami syukuri atas segala yang kami peroleh.
Berangkat dengan penuh kayakinan yang tinggi dan dengan dukungan dari semuanya, kami melangkah menuju ajang tertinggi, LKBB tingkat Nasional di SMK Muhammadiyah Cirebon. Terjatuh di tempat ketinggian adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk kami, kami terjatuh dari harapan tinggi yang kami canangkan dan rasanya sangat menyakitkan. Lelah, lesu dan tak nampak aura semangat sempat kami alami beberapa saat dan beberapa hari setelah kejadian itu, itu adalah pukulan telak bagi kami dan itu adalah cambukan bagi kami untuk bangun, bergerak dan berlari untuk berjaya dimasa yang telah Tuhan siapkan untuk kami. Sebut saja LKBB di Soreang yang diselenggarakan oleh PPI kabupaten Bandung, SMK YADIKA Sumedang, SMAN 6 Cimahi, SMAT Krida Nusantara, SMAN Situ Raja Sumedang, dan terakhir di SMPN 11 Bekasi, itu adalah bukti bahwa masih ada sisa kekuatan dan semangat yang kami miliki untuk tetap berjuang memperjuangkan sesuatu yang disebut dengan “Kejayaan”. Kejayaan adalah pemberian Tuhan atas segala bentuk upaya dari siapapun yang ingin merasakan kejayaan. Itulah Tuhan, terkadang Tuhan tidak memberikan sesuatu yang kita minta, tapi Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Kebutuhan itu adalah Jaya.

Semua Saat Terakhir..            
Semua cerita yang tersurat diatas adalah sebagai prolog untuk melengkapi sebuah cerita akhir dari sebuh perjalanan. Bagaimana dengan di UFC ? UFC adalah sebuah ajang perlombaan yang diselenggarakan oleh UNJANI-Cimahi dengan level Nasional atau Indonesia Open, peserta yang hadir adalah peserta terbaik yang datang dari luar kota bahkan provonsi. Semula UFC bukanlah ajang terakhir yang mereka ikuti, hanya saja karena adanya beberapa hal, mulai dari rasa malu yang kian hadir dari dalam lubuk ku, permasalahan managemen waktu, masalah perizinan dari semua pihak dan lain sebagainya, maka aku beserta para pelatih yang lain memutuskan bahwa keikutsertaan mereka untuk mengharumkan rumah mereka melalui perlombaan cukup sampai disini saja, bagiku ini adalah cara terbaik untuk semuanya dan aku akan tetap memegang prinsip itu. Berat dan bahkan terlalu berat untuk seorang aku, untuk bisa melepaskan mereka yang selama ini menjadi pasukan terbaik dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Entah kenapa, setiap ku lihat mereka sedang berlaga di arena lomba, rasanya aku mendapatkan sebuah “angin segar” dan helaan nafas yang optimis. Benar saja, setiap mereka tampil mereka selalu memberikan kami kebahagiaan dan senyuman yang tiada tara, bahkan sempat ku ungkapkan pada salah satu atau banyak diantara mereka “Akang sudah tidak punya lagi bahagia untuk kalian”.
Segala macam persiapan kami lakukan untuk semua yang dikatakan Semua Saat Terakhir, gerakan PBB kami pertegas dan haluskan, Variasi dan Formasi kami buat dia menjadi hal yang menakutkan, atribut kostum kami rangkai agar dia menjadi sesuatu yang membuat gagah dan indah setiap gerak tubuh yang ditampakkan.

Semuanya Saat Penantian
Semua persiapan sudah disiapkan dan sudah ditempatkan pada tempat yang seharusnya, latihan selama kurang lebih dua pekan sudah dilaksanakan, perjalanan yang terasa sulit sudah kami jalani dan lewati. Sekarang tinggal menggantungkan harapan yang telah dicanangkan pada Tuhan dengan panjatan do’a yang tulus nan penuh harap. Namun ada rasa yang berbeda yang ku alami, cemas, adalah rasa yang terus menemani saat menunggu pagi. Aku seperti mendapatkan diri yang sangat payah. Siapa yang tidak cemas, ketika latihan untuk yang terakhir, penampilannya tidak seperti yang diharapkan, Formasi belum sempurna. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika hari esok, mungkin aku adalah orang yang sangat bertanggung jawab atas kejadian itu. Jika aku boleh meminta pada Tuhan, aku akan meminta agar diberikan beberapa saat untuk melakukan persiapan untuk yang terakhir kalinya. Namun benar, Hari tetaplah hari dan waktu tetaplah waktu, keduanya tidak pernah diam menunggu kebangkitan dari siapapun yang kan bangkit. Hari yang sangat dinanti namun tidak diharapkan tetap saja akan tiba, dan hari itu adalah besok !

Semuanya Berakhir Dengan Manis
“Dengarkan, hari ini semua peserta yang tampil adalah peserta terbaik dan kita adalah termasuk didalamnya. Hari ini kita bukan lagi mencari kemenangan, kalah dan menang sudah menjadi hal yang lumrah kita dapatkan. Hari ini kita akan memperlihatkan kekuatan kita pada mereka, bahwa kita masih ada dengan segala kekuatan yang dimiliki dan kekuatan kita belum habis. Hari ini kita bukan mencari kemenangan, melainkan sebuah KEJAYAAN”. Itulah kata terakhir yang ku ucapkan pada mereka selang beberapa saat sebelum mereka tampil untuk yang terakhir kalinya, sekedar untuk mengembalikan motovasi mereka pada jalur yang seharusnya dan melahirkan jiwa juang yang luhur nan agung.
Ketika persiapan perencanaan keikutsertaan di UFC kami dihadapakan pada batu ujian yang datang dengan tidak biasanya, menghimpun kembali pasukan terbaik adalah batu ujian terbesar, bagaimanapun juga mereka tetaplah mereka yang jika salah satu diantara mereka hilang maka mereka bukan lagi menjadi mereka yang sebenarnya. Lagi, semua dapat diselesaikan dan dapat kami lewati dengan penuh perjuangan serta dengan penuh kehati-hatian. Pergi dengan penuh keyakinan dan mental juara, kami lenggangkan langkah pasti ini untuk kami hentakkan pada arena yang semoga dia mampu menerima kehadiran kami. Unik, Penampilan terakhir disana sangat unik, mungkin lebih unik daripada keunikan penampilan lainnya, selama berdiam diri disana banya sekali spekulasi dari kawan-kawan pelatih tentang kami, mereka mengatakan bahwa kami adalah yang menjadi juara, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa pasukan dari sebrang yang menjadi juara, rasanya saat terjadi hal itu kami seperti diombang-ambing dengan isue yang tersebar. Ya, semua telah terjawab setelah masa pengumuman datang, dengan segala bentuk rasa syukur yang sangat, kami mendapatkan suatu yang kami harapakan, yaitu kejayaan. Sempat terjadi beberapa kesalahan antara pihak panitia, kami dan peserta yang lain, namun kejadian itu tidak lantas mencabut gelar yang kami harapkan dan semua kembali seperti seharunya. Cileunyi..Cileunyi..Cileunyi !! adalah teriakan yang terdengar di Gedung saat pengumuman menjelang akhir. Mereka yang berteriak demikian bukan hanya meneriakannya untuk kami, tapi untuk semua kawan terbaik kami yang berdomisili di Cileunyi yang saat itu memang menjadi peserta di UFC, selain itu pada hari sebelumnya kami tampil, katanya nama Cileunyi sudah semerbak harum karena utusan atau peserta dari cileunyi mampu menjadi yang terbaik, yaitu SDN Cinta Asih dan Cimekar, selamat untuk mereka.
Dan, perjalanan ini sepertinya sudah disetting sedemikian rupa oleh Tuhan. Ini adalah akhir perjalanan yang sangat terasa manis, “ini adalah hasil kerja keras kalian, perjalanan selama tiga tahun ditutup dengan hasil akhir yang sangat manis”. Untuk semua, terimakasih telah memberikan Do’a yang tulus dan dorongan moril serta materil yang dengannya menjadi kekuatan besar untuk kami, terimakasih karena telah memberi warna dan memperindah jalan juang kami, kami adalah para manusia lemah tanpa kehadiran semuanya. Pertama dan utama, kami ucapakan banyak terimakasih, mohon maaf dan semua karya ini kami persembahkan untuk Almamater tercinta kami, SMPN 1 Cileunyi Kabupaten Bandung, pada Ekstrakulikuler PASKIBRA satuan SMPN 1 Cileunyi, pada jajaran Dewan Pelatih, Dewan Pembina, Dewan alumni (Keluarga besar PASKIBRA SMPN 1 Cileunyi), pada rekan terbaik kami, dan terakhir yang paling utama dari yang utama adalah orang tua, do’a kudus mu yang disampaikan pada Tuhan telah sampai pada anak mu, serta pada pasukan 17 yang kini telah menjadi akhir dari sebuah cerita. Semoga segala sesuatu yang diberikan dari semua mampu menjadi sebuah kebaikan dan dibalas oleh Tuhan sebagai pahala. Untuk pasukan 18 dan 19 silahkan ikuti jejak kakak mu, jadilah sebaik-baiknya adik yang mampu mengharumkan Domisili dan mempertahankan Kejayaan, aku tau dan yakin kalian bisa !.
Berikut adalah hasil yang kami raih di UFC Indonesia OPEN 2012:
1.       Juara umum
2.       Juara Utama 1
3.       Juara danton terbaik putri
4.       Juara danton terbaik
5.       Juara 3 Variasi dan Formasi
6.       Juara 1 bina (Pasukan B)

“Lalu, inikah yang disebut dengan kejayaan ? sebuah nama yang selama ini oleh semua orang dicari dan diperebutkan ? yang dengannya nyaris saling “membunuh” dengan segala bentuk upaya. Lalu, haruskah kita saling hina dan membanggakan diri atas semua yang diraih ?. Terlalu sempit, jika seandainya hidup kita hanya diisi dengan kehidupan “disana”. Lirik kehidupan yang lain, disana terdapat kehidupan  yang lebih mulia yang dapat menghantarkan semuanya pada derajat terbaik sebagai manusia. Lalu, cukupkan sampai disini peperangan yang sudah mulai terasa tidak sehat lagi, berkaryalah dengan sebaik-baiknya karya, berusahalah dengan sebaik-baiknya usaha jika memang KEJAYAAN lah yang semua cari !. ( Dari ku seorang pelatih amatir,2012 )”

Sabtu, 27 Oktober 2012

Mereka

Satu kata. Mereka. 
Aku pernah berfikir tentang bagaimana rasanya kehilangan mereka. Mereka begitu nyata, begitu indah, begitu ada,  dan begitu ajaib. Tuhan telah memberikan yang terbaik untuku bila ku ingat mereka. Kenangan, tawa, sedih, kemarahan, kesusahan, kebencian. Aku luapkan pada Mereka. Compang-camping kehidupanku bersama mereka. Ini terlalu sulit untuk ku tulis, ku cerna, ku bayangkan. Sudah seribu lebih kenangan yang mereka beri untuku. Bahkan seribu lembar kertas pun tidak cukup menampung semuanya.  Sudah kubilang, ini terlalu sulit.
Ada satu cerita, dimana mereka terkadang mengabaikan apa yg seharusnya mereka fikir. Persahabatan. Kata demi kata aku tulis di kertas ini, hanya untuk mereka.  Wajah mereka yang setiap hari kulihat, pembicaraan mereka yang setiap hari kudengar, kulit mereka yang setiap hari aku sentuh. Apa itu semua akan kembali? Apa itu akan tetap terjadi? Tidak lama lagi aku akan berpisah dengam mereka. Berpisah dengan wajah-wajah itu, berpisah dengan pembicaraan-pembicaraan itu, berpisah dengan kulit-kulit itu. Bahkan aku tidak tau kapan waktu mengembalikan itu semua.
Menurutku waktu akan mengembalikannya, tapi tidak seperti semula.  Yang pertama itu indah, yang pertama itu abadi. Apa mereka mengenangku? Apa mereka berfikir sama sepertiku? Kami sudah terlalu dekat, ini tidak bisa ku lepas, aku ingin terus seperti ini. Bersama mereka, selalu bersama mereka. Mereka. 17’

Senin, 22 Oktober 2012

Cerita Dibalik GEMA PALASKA 4

Jika ada yang bertanya tentang kesan di GEMA PALASKA 4, jawaban pasti yang akan kami lontarkan adalah "LUAR BIASA !!". Bagaimana tidak, dalam perjalanan menuju medan juang itu banyak sekali hal yang kami dapatkan ketika melakukan sebuah proses yang panjang. Mulai dari kendala dari pasukan yang belum menampakan taringnya, kendala finansial yang belum kunjung datang ketika waktu sudah mepet, kendala perizinan dari pihak "eksternal" sekolah yang sulit untuk didapat dan kendala lainnya yang membuat kami terasa terombang ambing karenanya. Namun itulah seni dari sebuah perjuangan untuk menjadi yang terbaik, telah menjadi sebuah prinsip bagi kami bahwa "Tidak akan ada hasil manis tanpa sebuah perjalanan yang pahit -Kang Enjang". Ya, itulah kalimat yang sampai saat ini kami yakini dan kami pegang teguh keberadaannya, kalimat itu seakan menjadi sebuah kekuatan yang membangun mental dan membakar semangat juang kami. Dan memang benar adanya, kalimat itu telah menjadi nyata dalam setiap perjalanan yang kami lalui.

Lalu, dengan semangat juang yang bersemanyam dalam diri kami, setiap perjalanan sulit yang ada, kami hadapi dengan helaan nafas optimis dan penuh keyakinan bahwa "badai pasti akan pulang", sampai pada akhirnya kami dihantarkan pada saat ketika tepuk tangan itu, sorak sorai itu, ucapan itu tertuju pada kami. Walaupun harapan kami untuk menjadi yang terbaik (Juara Umum) tidak tercapai tapi hasil kemarin adalah hasil yang sangat membuat kami bangga dan itu adalah hasil maksimal serta terbaik bagi kami, tentang itu, kami sambut hasil yang diterima dengan penuh rasa syukur dan terimkasih kepada semua pihak. Ah.. itulah saat ketika jiwa kami berada pasa posisi terbaiknya. Ada cerita lain, ketika hati para pelatih merintih merasakan saat terakhir bersama pasukan terbaik kami, Pasukan 17-21 / Pasukan Mojang sunda, perasaan itu melintas dihati para pelatih ketika melirik pada wajah lugu mereka. Semoga itu hanya perasaan, adalah suatu yang sangat berat jika harus melepaskan kalian, hai para pelaku sejarah !. Namun disisi lain, kami-para pelatih- mampu tersenyum ketika melihat hasil yang didapat oleh Pasukan baru, Pasukan 18, semoga kalian mampu menapaki jejak kakak mu. Apapun dan bagaimanapun, kalian semua adalah LUAR BIASA !! DAN KALIAN HEBAT !! 

Terakhir, kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang ikut serta memberikan warna disetiap perjalanan kami, kepada Pihak sekolah, Pembina kami (Bunda), pelatih kami (Kang Syarif dan Kang Enjang), Alumni kami, senior dan junior kami serta semua pihak yang tak mungkin kami sebutkan satu persatu disini termasuk didalamnya adalah penyelenggara kegiatan, SMPN 11 Bekasi. Dorongan Moril dan Materil serta do'a adalah kekuatan terbesar yang diberikan semuanya sehingga kami berada pada posisi terbaik. Dan kami ucapkan selamat kepada para pemenang, Selamat kepada SMPN1 Bojong-Purwakarta yang telah menjadi juara Umum ( tahun depan kita ketemu lagi ya.. hehe ), selamat juga kepada para pemenang lainnya, semoga kita semua dijauhkan dari sikap sombong dan takabur, semoga kita selalu berada pada sikap terbaik kita yang selalu bersykur atas segala kenikmatan dan kebahagiaan yang didapatkan serta semoga kita menjadi pemenang sejati. Amin..

Inilah hasil yang kami dapat di GEMA PALASKA 4 SMPN 11 Bekasi Tk. SMP/Mts/Sederajat se-Jawa Barat, DKI, Jakarta dan Banten yang diikuti oleh 38 Peserta :
1. Juara Utama 1 (Mendapatkan Trophy tetap dan bergilir dari KEMENPORA RI)
2. Juara Utama 3 (Mendapatkan Trophy tetap)
3. Juara PBB terbaik 1 (Mendapatkan Trophy tetap dan bergilir dari KEMENPORA RI)
4. Juara Danton terbaik 1 (Mendapatkan Trophy tetap dan bergilir dari KEMENPORA RI)

Dan ini beberapa dokumentasi selama keikutsertaan kami :

Kang Syarif ketika menerima Trophy sebagai Juara Utama 1 yang diraih oleh Pasukan 17

Sikap hormat kepad IP

Persiapan akhir sebelum tampil, pasukan 18

Di DP 1


Intro Variasi "Laskar Prajurit Sunda"

Pengalungan medali dari tim juri kepada Dona Shari sebagai Danton terbaik 1

Kang Enjang bersama Fikri "Jokowi" ketika meneri Trophy sebagai Juara Uatama 3

Ending Favor, Pasukan 17

Saat melakukan do'a sebelem tampil

Satu yang istimewa adalah adanya medali yang diberikan kepada para pemenang

Kang Enjang bersama Trophy yang diraih

Di DP 1, Pasukan 17

Salah satu ciri khas kami, Tari Jaipong khas Jawa barat


Sesi Foto bersama 17, Bunda dan Kang Enjang. Kang Syarifnya ngilang. hehe

Ending Formasi, Satria Pandawa

Gerakan Jaipong pada Variasi Prajuit Pegasus

Nah.. ini ada kang syarifnya

Foto bersama dengan semua