Pasukan 19, Sang Pewaris Mojang Sunda

Dan inilah masa depan kami yang lainnya, semua berharap agar mereka mampu mengikuti jejak kakak-kakaknya yang selalu gigih untuk mengharumkan rumah mereka, PASKIBRA Satuan SMPN 1 Cileunyi Kab. Bandung

Pasukan yang selalu tampil baru.

Mojang Sunda dan Satria Pegasus adalah sebuah karya yang nyata

Pasukan 17

Mereka adalah yang disebut sebagai pelaku sejarah, mereka lahir dengan nampak sempurna dan sampai pada penampilan terakhir mereka, mereka begitu menyita banyak pandangan mata.

Pasukan 18, Sang pewaris Satria Pegasus

Pasukan ini terlahir pada saat semuanya menjadi yang terbaik dan mulai pulih, adalah tantangan yang selalu mereka hadapi di arena perlombaan.

Saat Upacara Penaikan Bendera

Bagian terbesar dalam kiprah kami adalah selalu membuat Sang Merah Putih tetap melambai dengan eloknya di atas tiang tertinggi.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Fenomena Lomba Baris Berbaris Part II


Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Fenomena Lomba Baris Berbaris sebuah tulisan yang mengedepankan tentang sebuah esensi dari perlombaan baris (apapun itu namanya) yang berorientasi sebuah kemenangan atau kejayaan yang diraih. Lalu, apakan hanya kejayaan yang diraih ? bagaimana dengan kehidupan yang lainnya ? mereka yang berbahagia karena kemenangan memang banyak, tapi bagaimana dengan kondisi mereka yang “lainnya” ? apakah  hanya sebuah resiko yang didapat ? dan bagaimana dengan kehidupan adik-adik kita yang berbaris diluar sana ? sudahkah kita perhatikan ?. Kenapa kami menulis lagi tentang judul atau masalah yang sama, karena dilapangan banyak sekali terjadi sebuah keunikan dari para pelaku lomba, mulai dari kemasalahatan sampai pada kemadhorotan yang didapatkan. Segala hal yang ditulis disini adalah sesuatu yang ditulis dengan penelitian kasar, jadi setiap kejadian yang ditulis disini tidak sama dengan kejadian yang dialami diluar sana/di satuan yang lain, dan kalaupun sama berarti memang begitu adanya. Hehe :D
Tulisan ini lahir kembali ketika kami menulis status di Facebook Paskibra smpn satu cileunyi, status itu adalah “Bagiku PASKIBRA adalah... dan Lalu, Bagiku, Lomba adalah” dari upadetan statu itu ternyata respon atau komentar yang disampaikan sangatlah beragam, walaupun yang berkomentar tidak sampai ratusan bahkan ribuan tapi setidaknya komentar yang disampaikan cukup mewakili komentar yang ingin disampaikan oleh para penghuni beranda lainnya. Berikut akan kami ulas beberapa dari banyak komentar yang disampaikan pada status diatas :
Bagiku, PASKIBRA adalah... : Anugerah, penyemangat, keluarga besar ku, tempat ku menemukan jati diri, segalanya dihari-hari ku, kebanggaan ku, miniatur masa depan ku, langkah awal bagiku menuju kesuksesan, jiwa ragaku dan masih banyak lagi.
Lalu, bagi ku lomba adalah...Top of Form
 : Pengalaman, candu, sebuah usaha yang berujung bahagia, akar dari prestasi, sebuah impian untuk meraih mimpi, dan menggapai kesuksesan, ajang pembuktian, saat dimana peredaran darah menjadi lancar karena detak jantung semakin cepat, saat menikmati adrenaline (ga perlu naik roller coaster dulu), ajang mencari bakat dan tentunya komentar lainnya yang disampaikan oleh rekan kami di dunia maya.
Dari komentar atau pernyataan atas status yang dibuat dapat kiranya kita memandang bahwa antara PASKIBRA dengan perlombaan adalah sebuah hal yang sulit dan bahkan tidak bisa dipisahkan, seperti halnya kepingan uang logam yang tidak bisa dipisahkan antara satu sisi dengan sisi yang lainnya. Faktanya memang telah banyak sekali manfaat yang didapat selama mengikuti pendidikan di PASKIBRA dan selama mengikuti sebuah hajatan perlombaan, adalah kebersamaan, hal yang sangat kita rasakan. Dia (kebersamaan) muncul ketika senyuman menghiasi suasana saat itu, dia juga muncul ketika air mata ini tak lagi terbendung saat mendapati sebuah ujian hidup. Selain kebersamaan, masih banyak hal yang didapat selama mengikuti kedua aktivitas itu.
Baiklah, mari kita sejenak menarik helaan nafas panjang untuk menyiapkan diri kita menyimak beberapa Fenomena yang terjadi saat ini, khusunya tentang perlombaan. Memang benar, senyum, kebahagiaan, tangis dan rasa sakit itu muncul ketika proses latihan dan atau hasil dari proses yang dilakukan. Semua akan tersenyum karena rasa yang bahagia dan semua akan merintih menahan rasa sakit ketika apapun yang diharapkan tidak mampu diraih dan tangispun menjadi pemandangan yang tidak seharusnya terlihat. Kejayaan dan harumnya nama almamater dan atau media yang dihuni adalah menjadi sebuah tujuan dari keikutsertaan berlomba. Tapi, adakah yang melirik dengan tajam dan berfikir lebih dalam atas fenomena yang terjadi saat ini ? disamping kejayaan dan pengalaman terbaik lainnya, ada hal yang sangat miris jika itu benar-benar terjadi, hal itu adalah hilangnya jiwa ke-PASKIBRAAN yang secara hakikat keberadaannya adalah bertugas untuk menaik dan menurunkan dia yang bernama Sang Merah Putih. Memang ini hanyalah kekhawatiran, namun nampaknya kekhawatiran itu sudah mulai muncul. Coba lihat, mereka lebih bersemangat ketika latihan untuk lomba dan mereka lebih terlihat payah ketika harus berlatih dalam rangka menaik dan menurunkan Sang Merah Putih, selain itu, coba lirik kembali beberapa persoalan yang terjadi antar satuan yang sejatinya mereka adalah rekan satu peserta dalam event perlombaan, terkadang mereka tidak mengindahkan tatakrama dalam pergaulan. Dan, lirik juga pada beberapa kasus yang terjadi di ajang perlombaan yang katanya tidak mengindahkan dan menjunjung tinggi “Kebenaran dan Sportifitas” yang dengannya melahirkan perang dingin antar satuan, yang dengannya lahir sebuah fitnah yang belum tentu tentang kebenarannya serta beberapa efek yang dirasa negarif lainnya, bukan kah hal itu adalah sebuah pemandangan yang sama sekali tidak mencerminkan bangsa kita yang sebenarnya ? dan dimanakah jiwa seorang PASKIBRA/KA yang sesungguhnya ? masih kah ada dihati para generasi terbaik bangsa ini ? sekarang juga HENTIKAN PERLOMBAAN yang ada jika kehadirannya hanya sebagai media penghancur generasi terbaik bangsa ini !!, mungkin itulah kalimat yang ingin disampaikan oleh mereka yang dihatinya terdapat bibit kepedulian terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa ini.
Semuanya adalah sebuah kekhawatiran saja, sangat sulit dibayangkan jika semua yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Ayolah, bangun bangsa ini dengan sebenar-benarnya niat dan usaha, dan didik adik kita dengan sebuah ketulusan yang murni. Tidak salah jika perlombaan tetap dilaksanakan dan diikuti, karena didalamnya terdapat juga sebuah hal yang posotif didapat. Namun, keikutsertaan itu akan menjadi hal yang salah ketika tidak melakukan aktifitas sebagai anggota PASKIBRA yang sebenarnya.
Terakhir, apakah akan ada kebersamaan dan kesamaan berfikir tentang masa depan ? dan apakah akan ada  kebahagiaan dan kejayaan jika LOMBA BENAR-BENAR TIDAK ADA ?!

Dari ku Pelatih Amatir,
Enjang Muhdiat Saputra

Selasa, 13 November 2012

Pelatih yang baik adalah......


Pernah berkata seorang pelatih “Sebaik-baiknya pelatih tidak akan pernah mampu membawa jaya pasukan yang dilatih apabila pasukan yang dilatih tidak memiliki sesuatu yang dimiliki oleh pelatihnya dan atau sebaliknya”, artinya hubungan batin atau kesamaan persepsi antara pelatih dengan anak didik haruslah sama, agar ketika pelaksanaan kepelatihan mampu menghadirkan hubungan yang baik antara pelatih dengan yang dilatih. Dan dengannya tidak menutup kemungkinan akan meraih sesuatu yang diharapkan bersama. Namun nyatanya, terkadang yang terjadi dilapangan selalu terjadi kesalahpahaman antara pelatih dan anak didik, maksud pelatih adalah mendidik namun dipandangan anak didik pelatih melakukan hal yang tidak wajar sebagai pelatih. Itu mungkin saja terjadi jika tidak lahir sebuah persepsi yang sama antara pelatih dan anak didik.
Untuk membangun persepsi yang sama antara pelatih dan anak didik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjadi pelatih yang baik, beberapa diantaranya adalah menjadi orang yang diterima, dicintai dan dipercaya. Diterima, maksudnya adalah kita harus menjadi orang yang dengan kehadiran kita mampu membuat orang disekitar seperti mendapatkan sebuah angin yang segar, mampu membuat suasana yang tidak kondusif menjadi suasana nyaman dan menyejukkan. Jangan sampai kehadiran kita malah membuat suasana semakin larut pada sesuatu yang disebut dengan kegalauan (:p), awalnya anak didik diselimuti dengan senyum manis dan canda tawa lengkap dengan cerita konyol yang mereka ceritakan, lalu datanglah kita, pelatih yang menganggap diri kita adalah seorang pahlawan, lalu apa yang terjadi ? suasana pun menjadi berubah mood, senyum menjadi tekukan kening, tawa menjadi keringat dingin yang menetes diantara pipi yang berlesung serta gerak tubuh memperlihatkan ketidaknyamanan. Haduh.. sungguh malang jika kita menjadi pelatih yang ditolak kehadirannya, jangankan untuk bisa melatih agar menjadi lebih baik, suasana baik pun malah dibuat tidak baik. Maka jadilah pelatih yang diterima oleh anak didik, yang kehadiran kita dirindukan dan dinantikan, yang jika kita tidak hadir dalam latihan, kita adalah orang yang paling dicari oleh anak didik. Indah bukan ? :D
Jika kita sudah mampu menjadi orang yang diterima oleh anak didik, maka langkah selanjutnya adalah kita harus menjadi orang yang dicintai. Dicintai karena kepintarannya, ketegasannya, kewibawaannya, karismatiknya dan kegantengan serta kageulisannya (Ekhem..) yang mampu memberikan solusi cerdas saat semua dirundung oleh masalah, menjadi sahabat dengar yang baik ketika anak didik sedang berkeluh kesah karena proses latihan yang dirasa melalahkan, kondisi keluarga yang tidak karuan, pelajaran yang selalu mendapatkan nilai bawah KKM sampai pada hal yang dianggap sebuah privasi yaitu tentang kehidupan asmaranya, dan kita juga harus mampu menjadi sahabat yang cerdas dengan segudang solusi yang tepat diberikan pada masalah tertentu yang dihadapi oleh anak didik. Indikator keberhasilan ketika kita sudah menjadi orang yang dicintai adalah anak didik sudah berani terbuka dengan semua masalah yang dialaminya seperti yang telah disampaikan diatas. Katanya, jika kita sudah menjadi orang yang dicintai maka kita akan dibela dan diperjuangkan, setiap permintaan dan atau intruksi kita akan didengar dan segera dilaksanakan tanpa penuh tanya dan “kukulutus (menggerutu)”. Pernah mendengar cerita yang sedikit lebay tentang orang yang pacaran kan ? orang yang pacaran dibangun atas dasar rasa cinta, yang dengan rasa cinta itu sang kekasih rela berkorban waktu, tenaga dan bahkan materi. Rela menunggu sang kekasih dibawa guyuran hujan disertai petir yang dahsyat, rela melawan badai sandy demi menyelamatkan sang kekasih, demi memberikan materi yang banyak ketika kekasih butuh sebuah mobil baru, dan sejuta pengorbanan lainnya yang mencerminkan tentang sebuah kecintaan. Ceritanya memang lebay, namun jangan dilihat dari ceritanya, tapi lihat dari sudut pandang lain sebagai cerita yang lebay dan penuh makna (:p).
Nah.. kalo kita sudah menjadi seorang pelatih yang diterima dengan membawa sebuah angin segar yang menyejukkan, dicintai dengan segala kekurangan dan sejuta kelebihannya, maka secara otomatis akan lahir sebuah kepercayaan yang diberikan oleh peserta didik kepada kita, kalo sudah mendapatkan kepercayaan, maka dengannya akan mempermudah kita untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang pelatih. Sempurna rasanya jika kita mampu menjadi pelatih yang diterima, dicintai dan dipercaya oleh peserta didik, hal yang dikhawatirkan seperti tidak samanya jiwa dan persepsi akan terkikis secara cepat ataupun perlahan. Namun ingat, tiga hal yang disebutkan tadi tidaklah cukup, jika kita selaku seorang pelatih tidak memiliki sebuah skill yang mumpuni untuk melatih anak didik, jangan sampai tiga hal tadi menjadi hilang karena kita tidak mampu menjadi pelatih yang baik dilapangan ketika baris.
Menjadi pelatih yang diterima, dicintai dan dipercaya adalah prinsip yang mesti dipegang teguh  dalam rangka membangun kesamaan jiwa dan persepsi. Itu hanya satu dari beberapa ribuan bahkan jutaan kunci lainnya tentang bagaimana menjadi seorang pelatih yang baik, artinya setiap orang pasti mempunyai caranya masing-masing tentang cara melatih anak didik agar menjadi anak didik yang baik. Bukan berarti penulis telah menjadi pelatih yang baik, ini hanya cerita tentang perjalanan seorang pelatih yang tidak lebih hebat dari pelatih lainnya.
Lalu, bagaimana dengan kunci sukses melatih anda sob ? :D

Senin, 27 Agustus 2012

Bukan Hanya sekedar Galau

Galau itu apa ya ? makhluk apa sih ? ko dia bisa datang dengan cepat dan susah pergi ? kadang dia juga suka datang tampa kita undang semacam itu tuh, senang ga sih kalo lagi galau ? seneng ya ? buktinya kalo lagi galau suka diliatin dan bahkan jadi sebuah kata yang sengaja dibuat untuk mengisi kekosongan Time Line di Twitter dan Home di Facebook atau apalah, oke, ga ada yang seneng sama galau ! tapi kalau memang ga seneng ko malah mencari galau bahkan malah mendekatinya ? aneh, aduh.. jadi galau gini gara-gara mikirin si galau -___- . so, galau itu apa dong ????

Ah dari pada tambah galau gara-gara mikirin si galau meningan kita cari tau tentang makhluk yang satu ini dan mari kita sedikit bedah . perkiraan, kata galau muncul pada tahun 2010 kesini (kalo salah boleh dikoreksi) dia hadir bersamaan dengan berkembang pesatnya bahasa-bahasa baru dalam pergaulan anak muda zaman sekarang,khusunya dikalangan pelajar. Katanya sih galau itu bahasa yang gaul gitu, eh gaol bukan gaul. katanya juga sih ga gaul kalo ga galau, ga anak muda banget deh kalo ga galau mah, emang orang tua ga boleh galau ya ? curang dong ! kalo kita memandang kata galau melalui kaca mata yang bijak. hehe, galau itu tidak jauh beda sama artinya dengan kata "kegundahan/masalah" yang bersemanyam dalam hati dan pikiran, ya sedikit dimodif aja dengan merubahnya dengan kata galau biar kelitan kece badai -___-, jika galau adalah kegundahan/masalah yang bersemanyam dalam hati dan pikiran berarti galau adalah milik semua orang bukan hanya milik anak muda, coba kita lihat, orang tua yang mengalami kegundahan karena dihadapkan dengan urusan pekerjaan atau dengan rumah tangga, apakan orang tua itu disebut sebagai orang tua yang galau ? iya, dia adalah orang tua yang galau karena kegundahan yang dideritanya, tuh kan, galau itu adalah makhluk milik bersama. Siapa sih yang ga pernah galau ??

Terus, galau itu boleh ga ? boleh sekali, asalakan galaunya ga berkepanjangan dan setelah galau kita mampu menjadi pribadi yang lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi sebuah persoalan hidup, ada untungnya juga loh kalo kita mendapatkan kegalauan, ketika kita sedang galau itu artinya kita sedang mendapatkan sebuah masalah dan ketika kita mendapatkan sebuah masalah itu artinya kita sedang dididik oleh masalah untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, karena galau akan mengahantarkan kita pada kedewasaan selain akan terbentuknya pribadi yang arif dan bijaksana tadi. Jadi boleh dong kita bangga dengan galau ? boleh sekali ! kita boleh bangga dengan kegalauan hanya galaunya jangan lebay, galau yang dibuat-buat kerena ingin terlihat galau oleh orang lain, biarkan rasa galau itu hadir dengan alami dan dengan sendirinya. Karena perlu diketahui bersama, untuk bisa semakin dewasa mesti melalui pintu gerbang yang disebut galau (masalah/kegundahan), galau bisa melalui apa saja, galau karena belum mengerjakan PR, galau karena pernah menyakiti hati teman kita dan kita belum meminta maaf padanya, galau karena pernah ngambil uang orang tua dengan diam-diam (hayo siapa tuh ?) dan kita belum bisa jujur pada orang tua, galau karena apa lagi ya ? banyak deh, galau itu sebuah keharusan dalam kehidupan, dia adalah pemanis hidup agar kedewasaan kita bisa dirasa berkesan. Nah.. yang ga boleh itu galau yang bagaimana ? galau yang ga boleh itu adalah galau yang terjadi karena urusan perasaan pada pasangan/lawan jenis yang dengannya kita menjadi terpuruk yang menyebabkan ketidakmampuan berfikir dengan tenang terhadap masalah yang dihapai, bukan hanya pada masalah perasaan pada pasangan/lawan jenis ketang, pada hal lain juga kita ga harus galau berkepanjangan karenanya. lagian masalah yang kita hadapi bukanlah hal yang mesti kita ratapi terus menerus tapi harus kita selesaikan dengan kepala yang dingin dan hati yang jernih. Indah rasanya jika kita mendapati sebuah kegalauan dan kita jatuh karenanya tapi kita mampu segera berdiri dan kembali berlari dengan kencang.

Hidup bukan hanya sekedar galau. maka minta dan beroalah pada Tuhan agar kita dikuatkan dan diberikan jalan keluar ketika galau, jangan berdoa pada Tuhan agar kita tidak diberikan galau. Kan sudah disampaikan tadi diatas bahwa galau adalah pemanis hidup. Maka, jadikan galau bukan hanya sekedar galau, jadikalah dia sebagai cambuk diri agar kita menjadi pribadi yang berkualitas dan menjadi pribadi yang diperhitungkan oleh semua orang, Huhuyy... asik bangetkan galau yang satu ini ? berbeda dengan galau yang suka berkeliaran didunia maya, galau yang seperti itu adalah galau "bobodoan", kenapa bobodoan ? karena galau yang seperti itu adalah galau yang ingin ditanya "Kenapa hei ?" maksudnya ingin terlihat galau oleh yang lainnya, ya... semacam cari perhatian kali. hehe. 

Tulisan ini adalah satu dari beribu tulisan lainnya yang mengangkat tema galau dalam tulisannya, ada sedikit oleh-oleh nih. Jadikanlah galau mu lebih berkesan karena galau bukan hanya sekedar galau dan JANGAN TAKUT GALAU ! udah itu aja.
-SALAM PASKIBRA-
coba simak beberapa pengertian lain tentang galau dibawah ini.(Bonus)

Galau adalah suatu perasaan di lema.
Galau adalah sebuah pengambilan keputusan yang tidak pernah final.
Galau adalah suatu fikiran jangka pendek yang berubah ubah dalam waktu singkat, akibat rasa lelah, jenuh,bosan dll.
Biasanya hal ini yang menyebabkan galau. Lalu di berilah nama galau.

Galau adalah suatu hanyalah khayalan tingkat tinggi yang telah bercampur dengan fikiran atau persoalan pribadi yang nyata (contoh: 1 menit yang lalu menghayal tinggal di bulan, setelah itu tiba tiba pusing mikirin hutang, terus tiba tiba pusing mikirin si udin).

Jadi intinya galau adalah sebuah fikiran yang tidak dapat di cerna otak, karena sifatnya yang berubah ubah dan membuat otak yang lelah bertambah lelah.

Biasanya galau adalah pilihan atas rasa jenuh dan bosan. Artinya dari pada bengong, mending mikirin sesuatu ( Komentar Orang Galau: ini komentator sepertinya tergila - gila sama Syahrini).

Galau terjadi mendadak akibat rasa sadar. Misalnya dia banyak hutang dan persoalan pribadi (Komentor : Berarti Salah satu cara menghindari Galau ?, bayar hutang dong?).

Lalu kemudian pergi nongkrong ketawa ketiwi di rumah temannya. Lalu tiba tiba dia sadar di punya banyak persoalan yang belum tuntas. Akhirnya galau deh.

Sorry kepanjangan,maklum lagi galau nih haha.” By Noepit (broeda.blogspot(Dot)com)

Minggu, 26 Agustus 2012

Tetaplah dengan Ciri Khas PASKIBRA ! Dik

Pernah dengar jawaban yang seperti ini ? “Siap ! ingin bisa disiplin kang !” atau pernah mendengarkan lirik dari lagu ini ? “....Disiplin disiplin adalah nafasku....”  jika pernah, apa yang teringat dari dua kasus kalimat diatas ? jika tidak, coba pikirkan dan ingat lagi ! hehe. Adalah masa pendidikan selama mengikuti perjalanan di PASKIBRA kalimat dan lirik lagu itu selalu terucap dan terdengar, bukan tampa maksud tapi dengannya mampu mendongkrak semangat dan melahirkan sebuah motif berfikir yang rata dari peserta didik. Disiplin adalah sebuah tujuan yang hendak dicapai, disiplin adalah sebuah keharusan yang harus ada disetiap pribadi penghuni rumah ini (PASKIBRA). Kehadiran pembelajaran disiplin dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkan dan sangat dituntut untuk bisa tersampaikan, karena denganya –sikap disiplin- akan melahirkan pribadi yang ideal yang akan menjadi modal untuk bisa mengarungi kehidupan didalam maupun diluar organisasi yang dihuni, tampa adanya disiplin tidak akan ada kreatifitas yang diterima dan tampa adanya disiplin tidak akan ada karya yang dihargai. Perlu menjadi catatan penting bahwa pembelajaran sikap disiplin bukan hanya ada pada masa pendidikan di PASKIBRA, kita semua tahu bahwa semua menjadikan materi ini dalam setiap pendidikannya, baik itu sebuah organisasi didalam maupun diluar sekolah. Nah... agar pikiran kita tidak terlalu jauh berfikir, pada kesempatan ini kami akan membahas pada hal yang lebih khusus dan sempit lagi, yaitu pembahasan kedisiplinan dalam ruang lingkup Ekstrakulikuler yang ada disekolah, dalam hal ini adalah PASKIBRA.
Banyak para tokoh ahli yang mengartikan kata “Disiplin” baik mengartikannya secara harfiah maupun secara pengertian yang luas, disini kami mencoba menjadikan setiap perbedaan itu menjadi satu. Secara garis besar disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku disuatu tempat dan menurut waktu berlakunya, baik taat pada hukum yang tertulis maupun yang tidak tertulis, baik pada hukum yang dibuat sendiri maupun pada hukum yang dibuat oleh orang lain. Mari kita sedikit  membuka lebih luas pemikiran kita, dewasa ini sikap disiplin adalah hal yang terlihat kaku, sikap disiplin adalah hal yang asing dan kadang dia menjadi hal yang sangat dibenci oleh hati, bagaimana tidak ! karena untuk bisa bersikap disiplin perlu sekiranya ada hal yang dikorbankan. Kita coba angkat sebuah kasus sederhana, seseorang akan sangat benci untuk bisa datang lebih awal karena kebiasaannya adalah datang terlambat dengan segudang alasan. Bukankah ketika datang lebih awal dan tepat waktu termasuk pada tindakan disiplin, dia adalah disiplin pada waktu ? kenapa harus enggan disiplin pada waktu ? atau coba kita tengok pada kasus yang volumenya sedikit lebih besar, Ketika ada orang yang ingin melaksanakan dan patuh pada aturan yang berlaku, kemungkinan resiko yang akan dia hadapi adalah dia akan terlihat terang (dengan sikap kepatuhannya) diatara orang yang ada disekelilingnya karena mereka terlihat gelap dengan sikap yang tidak mau diatur. Sepertinya akan menjadi hal yang aneh jika ada yang berprilaku disiplin pada masa yang kian bebas ini, Aneh kan ? ya sangat aneh, tapi perlu menjadi sebuah kebanggan bagi dia yang mampu memunculkan sikap disiplinnya  kerena dia akan tetap terlihat terang (Kalo belum mengerti dengan kalimat bercetak tebal dan berdiri miring, coba sedikit berfikir dengan kening yang dikerutkan. hehe) . Coba kita tengok pergaulan remaja zaman sekarang, kehidupan mereka cenderung ingin bebas dan tak mau diatur, disadari atau tidak dengan kebebasan dan ketidakmauan diatur itu akan menghantarkan mereka pada jalan yang akan membawa pada kehidupan lain yang jauh dari kehidupan yang benar. Miris jika kita melihat generasi bangsa yang kian carut marut ini, mereka menjadi korban zaman ! maka... melihat realita seperti ini, diam dan termenung bukanlah solusi cerdas bung ! perlu kiranya sebuah sikap perubahan yang harus muncul dari kita selaku orang yang mengerti tentang pola hidup disiplin, memberikan pengajaran adalah solusi terbaik pada masa ini.
Maka, sudah seharusnya kita bangga karena bisa mengenal dan berada dirumah yang satu ini, sebuah wadah yang didalamnya kita dididik dan ditempa guna menjadi pribadi yang ideal dengan sikap disiplinnya. Disiplin adalah sebuah sikap yang harus tumbuh dan berkembang ditubuh para “penghuni rumah” , walaupun terasa tersiksa ketika kita membiarkan dia tumbuh dan berkembang ditubuh ini tapi biarlah dia tetap seperti itu, mari kita siram dia dengan air ketabahan serta keikhlasan agar dia menjadi indah dengan bunga yang merekah nan berbau  harum. Dan harus muncul sebuah keyakinan bahwa sikap disiplin bukanlah sikap yang kaku, dia hanya akan terlihat kaku bagi mereka yang tidak biasa hidupnya diatur dan berdisiplin, dan dia akan terlihat biasa saja dan bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang hidupnya siap sedia untuk hidup berdisiplin. Untuk menjadi  pribadi yang disiplin bukanlah perkara  mudah, perlu latihan dan pembiasaan terhadapanya. Terkadang jika kita tidak menghendaki hukum yang berlaku ditempat yang kita diami bukannya disiplin yang lahir tetapi kebencian kepada hukum yang akan lahir dari diri kita. Pahamilah dengan sebenar-benarnya pemahan, pahami dengan hati bukan dengan emosi, setiap hukum yang dibuat adalah agar kita terjaga dari kehidupan yang menyimpang.
Dari uraian diatas, sekarang kita dapat memahami betapa pentingnya kita hidup dengan pola disiplin. Hubungannya dengan PASKIBRA, disiplin adalah sesuatu yang menjadi bahan ajar didalam tubuh PASKIBRA, maka jadikan bahan ajar itu sebagai pemahaman yang selanjutnya jadikan dia sebagai pola sikap dan tindak. Mudah-mudah sikap disiplin tetap akan menjadi ciri khas tersendiri yang akan selalu melekat pada para penghuni PASKIBRA dan kita dijauhkan dari sikap pembangkangan terhadap hukum (Intruksi). Sekali lagi, Disiplin adalah milik semua, pembahasan disini adalah pembahasan yang dikhususkan dan disempitkan guna mempermudah memahami betapa pentingnya berdisiplin dalam seluruh aspek kehidupan yang berluang lingkup di sebuah Ekstrakulikuler PASKIBRA.
--Salam PASKIBRA ! semoga kita tetap jaya !!--

Jumat, 17 Agustus 2012

Sejarah Bendera Merah Putih


Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing. Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.
1.Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orangAustronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari danCandra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.
Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.
Pada Zaman ituada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.
2.Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupawaruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.
Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua benderamempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.
Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.
3.Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.
Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.
4.Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenaldengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.
5.Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.
6.Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih seringdikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.
7.Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa- desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah- putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.
Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.
Kemudian pada tahun 1922di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.
Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia yang berbunyi :
Pertama: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua:KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga:KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA
INDONESIA
Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah – putihtanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah – putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah – putih. Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah – putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak – gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pengibaran Bendera Merah-putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentukpanitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.
Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.
Bendera merah-putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958. Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.

Fenomena LOMBA BARIS BERBARIS

Adalah suatu kebanggan jika kita mampu menjadi yang nomer satu dan mampu bediri dipodium teratas dalam penghelatan akbar Lomba Ketangkasan Baris Berbaris. Ucapan selamat, pujian,sanjungan ,penghormatan, disegani dan mendapatkan penghargaan berbentuk materi sudah      menjadi imbalan yang pasti kita dapatkan  jika dan hanya jika kita mampu menjadi yang nomer satu. Tidak mudah memang, perlu kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa untuk menjadi pasukan yang kita harapkan. Semua memang butuh proses, jika dipikirkan lebih mendalam setiap proses yang kita lalui adalah proses panjang dan kadang terasa menyakitkan. Namun semua sadar dan kan berbuah manis, proses yang panjang dan keringat yang tertetes dimedan latihan kan terasa indah jika kita mampu menjadi yang terbaik diantara yang lainnya. Lomba Baris Berbaris (LBB), Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) atau apapun namanya kini telah menjadi jamur yang menjalar dimana-dimana. Tidak sedikit event perlombaan digelar oleh instansi pendidikan atau oleh instansi terkait hanya untuk sekedar menjadi sebuah media promosi, media profit orientid atau juga memang ingin menjaring bakat-bakat dari mereka yang terlibat dalam acara yang diselenggarakan. Saking banyaknya penyelanggaraan perlombaan, terkadang kita menjumpai perlombaan   yang secara waktu diselenggarakan secara bersamaan dengan perlombaan ditempat lain, itu dalam satu minggu, belum dalam satu bulan, bagaimana jika dalam satu tahun ? jika dihitung dalam satu tahun kita akan mendapati sebuah angka yang cukup mengejutkan, walaupun masih bisa dihitung dengan nalar pikiran. Dengan gerakan PBB yang variatif dan gerakan kolaborasi antara faviasi-formasi yang sangat indah menjadi tontonan tersendiri  yang sangat memanjakan mata, dan disana kita mampu melihat dan mengetahui betapa hebatnya mereka yang mampu menghasilkan sebuah karya. Zaman memang telah berubah, kini PASKIBRA (atau yang sejenisnya) tidak srek rasanya jika tidak mengikuti sebuah perlombaan, entah karena tuntutan zaman atau hanya sekedar unjuk gigi dan kekuatan pada khalayak orang. Salah ? Tidak ! bahkan mungkin akan dipandang aneh jika kita tidak mengikuti perlombaan yang diselenggran, beribu anggapan pun baik anggapan positif maupun negatif atas ketidak ikutan kita sepertinya akan didapatkan. Hal tersebut -mengukuti perlombaan- akan dipandang salah jika kita kehilangan "Jati diri yang sebenarnya dari PASKIBRA". PASKIBRA adalah Pasukan Pengibar Bendera bukan PASUKAN LOMBA !. Dengan banyak event perlombaan yang diselanggarakan, diharapakan kita tidak lantas memalingkan wajah dari tugas sebenarnya dari seorang PASKIBRA yakni selalu membuat sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya dilangit yang biru. kita perlu sikap atas fenomena yang terjadi saat ini, tetap pegang teguh prinsipnya maka kita tidak akan terpalingkan dari fungsi yang sebenarnya. Keren rasanya jika kita mampu bertugas sebagaimana mestinya dan mampu berprestasi diajang perlombaan. Ini hanya baris kata sederhana, tidak ada maksud untuk menyindir atau menyalahkan baik penyelanggara atau peserta yang mengikuti penghelatan bergengsi ini. Maju terus PASKIBRA , JANGAN PERNAH LUPAKAN TUGAS SUCI YANG SEBENARNYA !